Sabtu, 08 Agustus 2009

nyanyian cinta

TIARA*

Sebuah Nyanyian Cinta

Perempuan terhormat yang slalu tersanjung kau mematikan akupun sebaliknya .kita masih berada dalam mesteri tuhan waklau kau jauh dari pandanga namun jhati ini slalu merindukn dsan hilsng dalam lamunan ketika kuharapkan. Aku syakh !. kaujauh namun begitu dekat . aku tidask tau siapa diriu kau seperti apa!bagi mana hal dirimu! Dan dimana engkau sekarang. Namu yang paling jelas hatiku yang paling dalam. Aku merindukan setulus hatiku. Kalau memang engkau kekasih yang tuahan ciptakan untukku seorang

Tuhan begiyu indah yang termanifestasikan lewt penciptaan akal. Aku basa berhayaltentang dirimu. Tulamg rusukku yang tuhan ciptakn yang terwujut dirimu. Engkau begitu indah. Yang bersinar bak mrntari menerangi bumi. Kau tidak pernah berhenti berada dalam angan. Mwngarungi ruang hayal. Akan ku do;a kan semoga kau baik-baik saja. Menunggu datangnya perjumpaan bersejarah

LATEE, 08 JANUARI 2006

TIARA

Sebuah Nyanyian Cinta

Engkau begituu asang bagiku, namu begitu ndekat. Aku merindukan mu wlupun tidak pernah tau tentang dirimu. Aku pecita aku. Kau kekasih. Sebuah prjalanan mistikaus cinta. Aku bagian dari dirimu danengkau bagian dari diriku. Hidup ini sep[I tapi kau menghiburku dalam lamunan. Apkah engkau merasakan sesuatui seperti diriku?.

Dalam pencarian ini tiara. Aku bagaikan pemburu cinta tanpa ada mangsa-mangsa cita yang dapat diburu. Aku tidak tau apa arti pencarianku ini. Mungkin hanya engkau yng tau. Tapi engkau menyembunyikan lafatd-lafatdmu hanya menjadi hiassan untuk dirimu saja.

Aku sadar, telah tersat dalam prncarian. Kabarksan dimana dirimu kepada burung. Karena ia adalah saudaraku. Kabarkan kepada angin karna angin adalah selimutku. Kabarkan pada mentari karna ia penerangku katakan pada bumi yang kau minjak karns ia adalah permadaniku. Kabarkan pada rembulan, yng denagnnya aku bertegur sapa. Katakan pada makhluk makhluk tuhan karena ia adalah penghiburr laraku\. Janga pernah malu dangannya!.

TIARA

Sebuah Nyanyian Cinta

Di bawah tamaran lampu minyak yang menyinari catatan bisu ini serta kalam senantiasa mengukirnya. Bak sepasang kekasih membuat keagugan tuhan. Taukah kau! Kehangatan cahayanya memghangatkan keriduan. Laksana nubuah yang mencerahkan. Kantuk menyerangku. Kegaduhan mencercahku. Pikirankupun demikian adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar